Festival Steam 2025, Dorong Siswa Berinovasi Atasi Permasalahan Sehari-hari

Penabur Intercultural Secondary and Junior College Tanjung Duren, menggelar Festival Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM) di Emporium Pluit Mall, Jakarta pada 17-23 Maret 2025


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Penabur Intercultural Secondary and Junior College Tanjung Duren, menggelar Festival Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM) di Emporium Pluit Mall, Jakarta pada 17-23 Maret 2025. Para peserta didik kelas 7-12 diajak untuk mengeksplorasi potensi dan mampu menciptakan solusi dari berbagai permasalahan sehari-hari.

“Festival ini digelar dan melibatkan seluruh peserta didik. Untuk kelas 7-11 merupakan wadah bagi peserta mengeksplorasi dan melakukan penelitian. Kemudian, bagi peserta didik kelas 12, research project yang dipamerkan merupakan final project mereka yang juga menjadi syarat kelulusan,” ujar Mahadewi Asih Puspitaningtyas, Kepala Penabur Intercultural Secondary and Junior College Tanjung Duren, Selasa (18/3/2025).

Beatrice Joanna Wu dan Jeszichow Hourencia Tjong, peserta didik kelas 12 Penabur Intercultural Secondary and Junior College Tanjung Duren menjelaskan bagaimana memanfaatkan bakteri dan sampah organik agar berguna bagi manusia. Pertama, ia membuat kombucha teh fermentasi yang kadar probiotiknya cukup tinggi dengan memasukan bakteri scoby ke dalam teh hitam yang memakan gula. Kemudian, setelah itu ditambahkan kulit apel sehingga rasanya seperti cuka apel. "Kedua, kami membuat nata de pina, kita buat jeli awalnya pakai semangka tapi gagal karena kadar airnya terlalu tinggi dan kadar gulanya terlalu rendah. Jadi, kita coba pakai buah lain dan pilih nanas yang dimasukan ke dalam blender, lalu filter airnya, terus dimasak dengan gula, cuka, dan bakteri. Ketiga, buat kompos dengan memanfaatkan sampah organik," tutur Beatrice.

Proyek yang jauh berbeda dipamerkan oleh tim Shemayah Zophar dan Russell Ericson yang merupakan anak band di sekolah, membuat proyek Modulab, yaitu sebuah aplikasi komposisi musik dan desain suara sederhana yang dirancang untuk pemula. "Jadi, kami buat synthesizer yang berfungsi memodifikasi dan mengubah suara berdasarkan arus listrik yang mengalir. Kami menciptakan proyek ini karena kami sendiri adalah musisi dan ingin mencoba membuat karya musik sendiri, namun sayangnya aplikasi online saat ini sangat sulit digunakan, jadi kami membuat aplikasi yang mempermudah pemula dalam menciptakan musik," jelas Russel.

Selama proses pembuatan proyek STEAM yang dilakukan peserta didik baik individu maupun kelompok, guru-guru melakukan pendampingan, membimbing peserta didik melalui tahapan pengembangan proyek mulai dari mengidentifikasi masalah di lingkungan sekitar hingga merancang solusi yang aplikatif. Permasalahan yang dipilih tentunya sesuai dengan minat masing-masing peserta didik.

“Kami berharap bagi para peserta didik yang mengembangkan proyek STEAM untuk terus berinovasi, lakukan eksplorasi ide, dan jadikan setiap tantangan yang dihadapi sebagai kesempatan untuk belajar. Jangan takut bermimpi besar dan temukan solusi kreatif melalui STEAM,” ucap Mahadewi. (ym)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Festival Steam 2025, Dorong Siswa Berinovasi Atasi Permasalahan Sehari-hari. Please share...!

Back To Top