Olahraga Raket Makin Diminati, Bali Jadi Episentrum Pertumbuhan
![]() |
| ilustrasi olahraga raket sumber: Liga.tennis Indonesia |
JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Tren olahraga raket di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kian solid, didorong perubahan gaya hidup masyarakat serta meningkatnya minat terhadap aktivitas berbasis komunitas. Hal ini tercermin dalam laporan terbaru Liga.Tennis bertajuk Liga.Tennis Racquet Sports Report 2026.
Laporan tersebut mengungkap, tenis masih menjadi cabang dengan tingkat pemanfaatan tertinggi, dengan okupansi rata-rata mencapai 80%. Padel menyusul dengan 75% dan pickleball 41%, sementara squash berada di level 18% sebagai olahraga pelengkap dalam ekosistem.
Secara global, olahraga raket memang tengah naik daun. Tenis tetap menjadi salah satu olahraga paling populer di dunia, sementara padel berkembang pesat di berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara. Di sisi lain, pickleball mencatat ekspansi signifikan di Amerika Serikat (AS), Eropa, hingga Asia dan Australia.
Di Indonesia, Bali muncul sebagai pusat pertumbuhan baru. Faktor demografi dan ekonomi menjadi pendorong utama, mulai dari dominasi usia produktif, pertumbuhan kelas menengah-atas, hingga posisinya sebagai destinasi wisata global.
Founder Liga.Tennis Dima Shcherbakov menilai, terjadi pergeseran pola partisipasi olahraga, dari sekadar aktivitas fisik menjadi pengalaman sosial. “Aktivitas berbasis komunitas kini semakin dominan. Ini membuka peluang baru, baik bagi pelaku industri maupun investor,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Dari sisi perilaku, lanjutnya, tenis cenderung dimainkan sepanjang hari, dengan puncak aktivitas antara pukul 08.00–20.00. Sementara padel lebih ramai pada pagi dan malam hari, terutama setelah jam kerja, mencerminkan karakter olahraga yang lebih sosial dan fleksibel.
Pertumbuhan olahraga raket di Tanah Air juga ditopang oleh kelompok usia muda. Laporan mencatat, partisipasi terbesar berasal dari usia 21–40 tahun, khususnya pada tenis dan padel.
Sementara itu, pickleball menunjukkan distribusi usia paling merata, dari pemain junior hingga senior, menandakan potensinya sebagai olahraga inklusif. (sd)























