Triwulan I-2017, Perekonomian Jatim Tumbuh 5,4%-5,8%

749
(Ki-Ka) Difi Ahmad Johansyah (Kepala Perwakilan Cabang BI Jatim), Lana Soelistianingsih (Ekonom Samuel Asset Management), dan Dody Budi Waluyo (Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI)

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Kondisi perekonomian tahun 2017 diperkirakan masih akan stabil. Hal ini terindikasi gencarnya pemerintah membangun infrastruktur.

Kepala Perwakilan Cabang BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengungkapkan, pada triwulan empat tahun lalu kondisi ekonomi di Jatim cenderung melambat. Menurutnya, hal ini didorong perlambatan konsumsi.

“Di triwulan pertama tahun 2017 ini, Bank Indonesia Jawa Timur memperkirakan kondisi ekonomi di Jawa Timur tetap stabil bahkan tumbuh meski tidak tinggi pertumbuhannya,” kata Difi di acara “Diseminasi Kebijakan Moneter dan Laporan Nusantara” di Surabaya beberapa hari yang lalu.

“Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Jawa Timur pada triwulan I-2017 tumbuh di level 5,4 persen-5,8 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV-2016,” tambahnya.

Difi menguraikan, akselerasi ekspor luar negeri dan konsumsi swasta menjadi pendorong utama pertumbuhan sisi permintaan. Kinerja lapangan usaha pertambangan, penggalian, konstruksi sedikit mengalami pelambatan, namun secara merata kepercayaan konsumen akan menjadi lebih baik.

Dody Budi Waluyo, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, mengungkapkan, secara makro tingkat pertumbuhan ekonomi global dalam kondisi baik yang dipengaruhi membaiknya perekonomian Amerika dan China.

“Membaiknya ekonomi global berdampak pada nilai tukar baik, bahkan ekonomi masih di topang sumber daya alam yakni, harga komoditas Indonesian seperti batubara, minyak sawit dan beberapa jenis logam trendnya terus naik,” kata Dody.

Masalah Investasi, lanjut Dody, mendorong PDB naik. Surplus neraca pembayaran Indonesia triwulan empat 2016 tercatat 4,5 miliar dolar, bahkan nilai tukar sampai Pebruari 2017 cenderung stabil, sedangkan inflasi masih terkait kenaikan TDL 900VA , dan BBM, suku bunga cenderung turun.

”Artinya meski inflasi terkendali tetap terdampak subsidi energi dari pemerintah yang akan berkurang,” tandasnya.

Langkah yang dilakukan BI adalah menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali juga suku bunga bis lebih rendah.

Sementara ekonom Samuel Asset Management, Lana Soelistianingsih, memaparkan pentingnya peran daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, secara umum 13 propinsi tumbuh 5-6 persen, kontribusi PDB didominasi oleh pulau Jawa. Sumatra dan Kalimantan kontribusi sedikit menurun, berbeda yang dicapai Sulawesi.

Kredit 2016 tertolong KUR mencapai 319,6 triliun, yang didominasi Jawa sekitar 70 persen dari total kredit perbankan.

Penjualan ritel melambat kredit bank membaik, rekening pemerintah belum baik namun dilihat dari perekonomian secara makro indeks keyakinan konsumen diatas level 100 yaitu optimis.

Tantangan dalam menjaga stabilitas perekonomian kedepan, lanjut Lana, adalah naiknya inflasi berdampak pada naiknya suku bunga yang berimbas pada turunnya daya beli masyarakat. (dri)

BAGIKAN