Pertumbuhan Laba BNI Semester 1 Tahun 2017 Capai 46,7%

344

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Sampai dengan akhir semester pertama tahun 2017 PT Bank Negara lndonesia (Persero) Tbk (IDX: BBNI) berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 6,41 triliun atau tumbuh sebesar 46,7% dibanding laba pada posisi yang sama tahun 2016 yang tercatat sebesar Rp 4,37 triliun.

Pertumbuhan kredit BNI sampai akhir paruh pertama tahun 2017 tercatat sebesar 15,4% atau mencapa Rp 412,18 triliun. hampir setara dengan dua kali lipat dari pertumbuhan kredit industri perbankan periode Mei tahun 2017 yang sebesar 8,7%. Sebesar Rp 296,1 triliun atau 71,8% dari total kredit, disalurkan ke Segmen Bisnis Banking, sedangkan sebesar Rp 67,1 triliun atau 16,3% ke segmen Konsumer Banking. Sisanya sebesar 11,9% disaiurkan melalui kantor-kantor cabang luar negeri dan perusahaan anak.

Direktur Keuangan dan Resiko Kredit BNI, Rico Budidarmo menuturkan bahwa tumbuhnya kredit yang disalurkan BNI terutama ditopang oleh realisasi pembiayaan ke soktor Business Banking pada semua segmen, dari debitur usaha korporasi dan badan-badan usaha milir negara (BUMN), debitur usaha menengah, hingga debitur usaha kecil. Penyaluran kredit ke debitur usaha korporasi dan BUMN melaju cepat seiring dengan menggeliatnya preyek-proyek infrastruktur dan pertanian.

“Kredit yang tersalurkan pada proyek infrastruktur terfokus pada proyek jalan tol khususnya di Pulau Jawa yang diaksanakan oleh BUMN. Adapun kredit yang tersalur ke sektor pertanian terfokus pada pengembangan perkebunan oleh perusahaan-perusahaan nasional yang memiliki jaringan bisnis lnternasional.”

Sampai akhir Semester I tahun 2017 Total Aset BNI mencapai angka Rp 631,74 triliun atau tumbuh Rp 92,6 triliun (17,2%) di atas total aset pada akhir periode yang sama tahun 2016 yang tercatat sebesar Rp 539,14 triliun. Pertumbuhan Aset BNI terutama ditopang antara lain oleh pertumbuhan DPK dan Simpanan dari Bank lain.

DPK yang berhasil dihimpun mencapai Rp 463,86 triliun hingga akhir Semester 1 tahun 2017 atau naik 18,5%. Porsi dana murah (CASA) mencapai 60,9% dari total DPK pada akhir Juni tahun 2017 dibandingkan posisi yang sama tahun 2016 sebesar 60,4% dari total DPK. Peningkatan CASA ini dikontribusikan oleh pertumbuhan Giro yang berhasil tumbuh sebesar 26,7% yoy dan Tabungan yang naik 14,5% yoy.

Dengan pertumbuhan dana sebesar 18,5%, BNI behasil menurunkan biaya dana ke Ievel 3,0% dari 3,1% pada Juni tahun 2016, terutama didukung oleh turunnya rata-rata suku bunga Deposito Berjangka yang menjadi 5,5% di Juni tahun 2017 dibandingkan dengan Juni tahun 2016 sebesar 6,0%.

Penghimpunan dana murah tidak terlepas dari peningkatan jumlah rekening yang dibuka oleh nasabah individu dari 18,9 juta rekening per Juni tahun 2016 menjadi 27,6 juta rekening per Juni tahun 2017 atau tumbuh 46%. Hal ini berkaitan dengan pembukaan rata-rata 725.000 rekening dana individu setiap bulannya yang tidak lepas dari kontribusi kinerja dari Agen46 BNI atau Branchless Financial Inclusion Services (Laku Pandai) yang merupakan salah satu perangkat bagi BNI dalam meningkatkan jumlah rekening individu. BNI mencatat pertumbuhan jumlah Agen46 yang beroperasi dari sebanyak 10.715 Agen46 per akhir semester l tahun 2016 menjadi 54.543 Agen46 pada akhir semester I tahun 2017.

Pembukaan rekening juga terjadi pada nasabah-nasabah baru dari kalangan perusahaan dimana jumlah rekening perusahaan yang dibuka di BNI meningkat sebanyak 63,038 rekening yaitu dari 415.632 rekening pada Juni tahun 2016 menjadi 478.670 rekening pada Juni tahun 2017 atau tumbuh 15,2%. Dengan demikian, setiap bulan rata-rata dibuka sebanyak 5.253 rekening dana perusahaan.

Pendapatan Bunga Bersih (NII) yang diperoleh BNI hingga paruh pertama tahun 2017 mencatat kenaikan dan Rp 13,91 triliun di Juni tahun 2016 menjadi Rp 15,40 triliun atau naik 10,7% sehingga menyebabkan BNI mampu menjaga margin bunga bersih atau NIM di level 5,6%.

Pendapatan Non Bunga juga naik sebesar 17,9% dari Rp 3,95 triliun pada semester 1 tahun 2016 menjadi Rp 4,65 triliun pada akhir semeater 1 tahun 2017, terutama didukung oleh kenaikan fee yang berasal dari transakai trade finance, pengelolaan rekening dan debit card, serta fee yang diperoleh dari bisnis bancassurance.

“Dengan pencapaian indikator-indikator kinerja di atas, BNI mampu mencatat pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 6,41 triliun atau tumbuh 46,7%, dimana angka ini lebih tinggi dari sektor perbankan Indonesia yang mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 17,2% per Mei 2017 year on year (yoy),” tutup Rico Budidarmo. (dri)

BAGIKAN