Perkuat Sinergi dan Inovasi, TPID Jatim Siap Kendalikan Inflasi di Tahun 2017

494

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Tim Pengendali Inflasi Daerah TPID Propinsi Jawa Timur berkomitmen menjaga inflasi di tahun ini lebih rendah dari inflasi nasional di kisaran 4 plus minus 1 pada akhir tahun 2017. Sejak awal tahun, tingkat inflasi Jatim tercatat pada kisaran 1,52 persen, disumbangkan oleh kenaikan biaya administrasi STNK, harga cabai rawit, pulsa ponsel, tarif listrik dan bensin.

Pengarah TPID Jatim yang juga Kepala BI Perwakilan Jawa Timur Divi Ahmad Djohansyah mengatakan, akan ada beberapa upaya yang dilakukan oleh TPID yaitu penyempurnaan Siskaperbapo guna memperkuat data pangan, operasi pasar dan pemberian subsidi ongkos angkut guna mengantisipasi lonjakan harga pada hari besar keagamaan, serta pembangunan waduk dan jaringan irigasi secara kontinyu untuk mendorong produktifitas pertanian.

“TPID Jatim telah mensinergikan berbagai kebijakan dalam upaya pengendalian inflasi baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan tetap mengacu pada lima pilar utama yang bertajuk Gadis Remo Kangen. Yakni Penguatan kelembaGAan – produksi, DIStribusi, konektivitas – REgulasi dan MOnitoring – KAjian dan informasi – peNGENdalian ekspektasi, dengan fokus pada pilar kedua, yaitu Penguatan Produksi, Distribusi dan Konektivitas, melalui Tindak lanjut program Kerjasama Antardaerah yang telah ditandatangani oleh 16 pemerintahkota/kabupaten se Jawa Timur pada November 2016, khususnya untuk daerah perhitungan inflasi IHK, yang mulai diimplementasikan melalui kerjasama PT Puspa Agro selaku BUMD Provinsi Jawa Timur dengan lembaga atau asosiasi di level Kabupaten/Kota yang bersinergi dengan gapoktan (produsen) sebagai pemasok komoditas pangan/holtikultura,” ujarnya dalam pertemuan High Level Meeting TPID Jatim di Hotel JW Marriot Surabaya, Selasa (21/2/2017).

Menurutnya, inisiasi kerjasama juga dilakukan dengan pemerintah daerah lintas provinsi dalam rangka optimalisasi peran BUMD/Lembaga lainnya sebagai lembaga buffer dan sinergi “agen pangan” pemerintah dalam mendorong stabilitas harga, Optimalisasi pelaksanaan kalender tanam untuk menjaga ketersediaan komoditas yang berkesinambungan, serta penyusunan mekanisme e-gudang dalam rangka optimalisasi resi gudang melalui pemanfaatan gudang BUMDesa dengan resi gudang yang ada di sentra-sentra produksi.

TPID Provinsi Jawa Timur senantiasa memperkuat strategi dan inovasi pengendalian inflasi terutama dalam menghadapi tantangan dan risiko inflasi di tahun 2017 yang semakin kompleks.

Potensi risiko inflasi di tahun 2017 lanjut Divi, terutama bersumber dari penyesuaian administered prices sejalan dengan kebijakan lanjutan reformasi subsidi energi oleh Pemerintah. Selain itu, potensi risiko juga bersumber dari dampak lanjutan kebijakan penyesuaian administered prices tersebut terhadap harga komoditas di kelompok inti, dan beberapa tantangan inflasi di kelompok volatile food yang bersifat struktural, seperti ketergantungan produksi pangan dengan cuaca yang masih tinggi dan tata niaga pangan yang masih belum efektif dan efisien.

Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh BI dan seluruh jajaran instansi pemerintah provinsi Jawa Timur yang tergabung ke dalam TPID Jawa Timur ini, diharapkan mampu menjawab tantangan pengendalian inflasi di tahun 2017.

“Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak terlalu khawatir dan panik dalam merespon isu-isu terkait gejolak harga komoditas. Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi tersebut, kami optimis inflasi Jawa Timur dapat terkendali di tahun 2017 di kisaran 4±1%,” tutupnya. (dri)