Optimisme Perekonomian Jatim di Tengah Daya Dukung Investasi dan Pembiayaan

595

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Diseminasi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Timur Triwulan-I 2016 dengan tema Optimisme Perekonomian Jawa Timur di Tengah Daya Dukung Investasi dan Pembiayaan. Hal ini bertujuan untuk menginformasikan perkembangan perekonomian Jawa Timur terkini sekaligus mendiseminasikan kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia guna mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan.

Benny Siswanto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur mengatakan di tengah pemulihan ekonomi domestik dan global yang berlangsung lambat, perekonomian Jawa Timur berhasil tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional dan menempati peringkat kedua di bawah DKI Jakarta.

“Di triwulan I 2016, perekonomian Jawa Timur tumbuh sebesar 5,3% (yoy) melebihi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,9% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan didorong oleh akselerasi konsumsi swasta, investasi, dan ekspor luar negeri. Sementara dari sisi penawaran, sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” ujarnya di Ruang Singosari Kantor BI Jatim, Surabaya, Rabu (29/6/2016).

Konsistensi penerapan kebijakan harga energi sesuai tingkat keekonomiannya di tengah koreksi harga energi dunia mampu mendorong rendahnya tekanan inflasi sehingga turut mendukung terjaganya pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Sampai dengan Mei 2016, inflasi IHK Jawa Timur tercatat sebesar  2,77% (yoy), lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 3,33% (yoy) dan lebih rendah dibandingkan historisnya lima tahun terakhir (6,14% yoy). Terjaganya tekanan inflasi sampai Mei ini terutama bersumber dari kelompok administered prices (Mei 2016, -3,74%, yoy), akibat koreksi harga BBM dan tarif listrik seiring dengan rendahnya harga minyak dunia. Inflasi kelompok inti juga tercatat lebih rendah dibandingkan historisnya lima tahun terakhir, sejalan dengan semakin terjaganya ekspektasi masyarakat dan rendahnya cost-push dari harga energi terhadap komoditas inti tersebut. Sementara itu, tekanan inflasi pada bulan Mei 2016, bersumber dari kelompok volatile food (Mei 2016, 6,68% yoy) akibat tingginya harga aneka cabai dan daging ayam ras.

Lebih lanjut, tingkat inflasi yang terkendali di Jawa Timur tentunya tidak terlepas dari program dan langkah aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Timur.  Sebagai upaya pengendalian harga pada periode Lebaran, TPID Jawa Timur mengimplementasikan beberapa paket kebijakan strategis yang dikemas dalam Six Package TPID Jawa Timur (6 Paket Kebijakan TPID Jawa Timur) antara lain: (i) pelaksanaan operasi pasar bantuan ongkos angkut, (ii) pelaksanaan angkutan mudik gratis, dan (iii) diseminasi aktif kepada masyarakat mengenai pergerakan harga dan ketersediaan pasokan komoditas strategis melalui media elektronik maupun cetak.

Ditinjau dari sisi perbankan, kinerja perbankan di triwulan I belum membaik, namun dari segi risiko, stabilitas keuangan masih terjaga. Penyaluran kredit hanya tumbuh 7,35% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang sebesar 8,93% (yoy). Demikian pula pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga turut melambat, masing-masing hanya tumbuh 8,6% dan 8,5% (yoy). Namun demikian, indikator-indikator ketahanan seperti rasio NPL dan LDR masih berada di kisaran aman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa stabilitas sistem keuangan Jawa Timur masih relatif terjaga, sehingga masih terbuka ruang dalam penyaluran pembiayaan.

Di tahun 2016 ini, Jawa Timur masih menghadapi berbagai tantangan perekonomian baik global maupun domestik. Masih rendahnya pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama, ketidakpastian di pasar keuangan global akibat keluarnya Britania Raya dan Irlandia Utara dari Uni Eropa, serta rencana kenaikan Fed Fund Rate merupakan tantangan global yang turut berpotensi menjadi ganjalan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Di sisi lain, masih tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, serta masih rendahnya peran pembiayaan perbankan merupakan beberapa tantangan dari dalam Jawa Timur yang perlu segera ditindaklanjuti.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, masih terdapat optimisme perekonomian tahun ini akan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2015, khususnya didukung oleh investasi dan pembiayaan. Investasi yang didominasi oleh pembangunan infrastruktur Pemerintah akan memberikan multiplier effect pada peningkatan kinerja sektor-sektor ekonomi. Bersamaan dengan itu, upaya mendorong single digit interest rate pembiayaan secara gradual diharapkan memberikan ruang yang lebih luas bagi peningkatan kapasitas usaha sehingga mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ke depan. Dalam rangka mencapai single digit interest rate tersebut, diperlukan strategi efektif untuk mendorong cost of fund yang lebih rendah dengan risiko usaha yang terkendali, serta komitmen peningkatan efisiensi perbankan.

Bank Indonesia turut mendukung efisiensi ekonomi sebagai upaya meningkatkan daya saing di seluruh sektor eknomi. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penurunan BI Rate menjadi 6,5%, setelah di tahun 2015 mencapai 7,5%. Selain itu, dalam rangka peningkatan efektivitas transmisi kebijakan moneter dan pendalaman pasar keuangan, Bank Indonesia mereformulasi suku bunga kebijakan, dari BI Rate menjadi BI 7-day (Reverse) Repo Rate yang akan berlaku sepenuhnya pada tanggal 19 Agustus 2016. Penguatan operasi moneter ini tidak mengubah sikap (stance) kebijakan moneter yang sedang diterapkan. Dalam masa transisi, Bank Indonesia akan tetap menggunakan BI Rate sebagai suku bunga kebijakan. Dalam periode yang sama, BI akan mulai mengumumkan BI 7-day Repo Rate sebagai bagian dari suku bunga operasi moneter (term structure).

Penguatan kerangka operasi moneter tersebut memiliki tiga tujuan utama. Pertama, memperkuat sinyal kebijakan moneter dengan suku bunga (Reverse) Repo Rate 7 hari sebagai acuan utama di pasar keuangan. Kedua, memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui pengaruhnya pada pergerakan suku bunga pasar uang dan suku bunga perbankan. Ketiga, mendorong pendalaman pasar keuangan, khususnya transaksi dan pembentukan struktur suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB) untuk tenor 3 bulan hingga 12 bulan. Untuk itu, penguatan operasi moneter akan disertai dengan langkah-langkah untuk percepatan pendalaman pasar uang, yakni melalui: (i) memperkuat peran suku bunga Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) bagi terbentuknya struktur suku bunga di pasar uang untuk tenor dari overnight sampai dengan 12 bulan; (ii) mempercepat transaksi Repo dengan mendorong bank-bank berpartisipasi ke dalam General Master Repo Agreement (GMRA); (iii) mengurangi segmentasi dan meningkatkan kapasitas transaksi pasar dengan mendorong perbankan untuk lebih membuka akses counterparty.

Dengan berbagai daya dukung dan potensi perekonomian Jawa Timur tersebut, perekonomian Jawa Timur pada tahun 2016 diperkirakan masih terakselerasi dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2015.  “Perbaikan ekonomi diperkirakan masih didorong oleh realisasi investasi, khususnya investasi bangunan yang sejalan dengan akselerasi proyek infrastruktur pemerintah. Berbagai kemudahan yang ditawarkan pemerintah melalui paket kebijakan ekonomi, khususnya terkait izin investasi di tengah meningkatnya dukungan pembiayaan, diperkirakan akan mendongkrak kinerja investasi non bangunan di Jawa Timur. Selain itu, peningkatan permintaan dari negara-negara tujuan ekspor baru diharapkan mampu mendorong kinerja ekspor Jawa Timur sepanjang tahun 2016,” tutupnya. (dri)