Indonesia Belum Capai Target Bebas Karies Gigi yang Ditetapkan WHO dan FDI

1414
(Ki-Ka) drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent., MDSc - Head of Professional Relationship Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk, drg. R. Setyohadi, M.S., - Dekan Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, dan Artika Sari Devi - Puteri Indonesia 2004 sekaligus Brand Ambassador Pepsodent dalam acara TalkShow Kegiatan BKGN 2016 di FKG Universitas Brawijaya Malang, Senin (28/11/2016)

MALANG (IndonesiaTerkini.com)- Kondisi Indonesia untuk mencapai Indonesia Bebas Karies Gigi (gigi berlubang) masih jauh dari harapan, mengingat target yang ditetapkan oleh WHO dan FDI untuk mencapai di tahun 2000 adalah 50% dari anak usia 5-6 tahun yang harus bebas dari karies gigi.

Drg. Ratu Mirah Afifah GCClindent., MDSc, Head of Professional Relationship Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk mengatakan, survei Kesehatan Gigi Nasional tahun 2015-2016 yang diselenggarakan oleh PT Unilever Indonesia Tbk bersama Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Nasional (PDGI) dan Ikatan Profesi Kedokteran Gigi Masyarakat Indonesia (IPKESGIMI) menyimpulkan bahwa hanya 25,6% anak usia 6 tahun dan 42,3% anak usia 12 tahun yang bebas karies gigi. Prevalensi Karies gigi pada anak usia 6 tahun ditemukan sebesar 74,4% sedangkan pada anak usia 12 tahun bergeser menjadi 59,3%.

“Dari angka tersebut menunjukkan sekitar 73,9% anak usia 6 dan 12 tahun memiliki karies gigi yg tidak terawat,” ujarnya di acara Penutupan BKGN 2016 di Universitas Brawijaya, Malang, Senin (28/11/2016).

Sementara itu, drg. Melissa Adiatman, PhD., Peneliti IPKESGIMI menambahkan, rendahnya angka bebas karies disebabkan oleh kebiasaan menyikat gigi yang salah dan kebiasaan tidak mengunjungi dokter gigi secara teratur.

Terbukti bahwa 15,2% anak usia 6 dan 12 tahun menyikat gigi kurang dari dua kali sehari, sebanyak 26,27% tidak mengunjungi dokter dalam 12 bulan terakhir, dan sebanyak 25,51% tidak pernah mengunjungi dokter gigi untuk memperoleh perawatan. Sementara pada anak usia 12 tahun sebanyak 33,8% tidak mengunjungi dokter gigi dalam 12 bulan terakhir, dan sebanyak 23% tidak pernah mengunjungi dokter gigi untuk memperoleh perawatan. Baik anak usia 6 tahun dan 12 tahun yang mengunjungi dokter gigi dalam 12 bulan terakhir berkunjung ke dokter gigi sebagian besar sudah dalam keadaan sakit atau terdapat masalah pada gigi, gusi, atau mulut sebanyak 75,9% untuk anak usia 6 tahun dan 65,9% untuk anak usia 12 tahun.

Oleh sebab itu, lanjut drg. Melissa, untuk memelihara perilaku yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, selain memperhatikan waktu, frekuensi dan cara menyikat gigi, orang tua juga perlu mendampingi anak ketika menyikat gigi. Berdasarkan penelitian, anak yang didampingi orang tua ketika menyikat gigi memperlihatkan perbedaan signifikan dalam indeks kebersihan mulut, radang gusi dan gigi berlubang dibandingkan dengan anak yang tidak didampingi oleh orang tua. Lebih lanjut, menyikat gigi dua kali sehari pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur dapat selama minimal 2 menit dapat mengurangi resiko gigi berlubang sebanyak 50%.

Hal senada diungkapkan Artika Sari Devi, Puteri Indonesia 2004 sekaligus Brand Ambassador Pepsodent saat pengalamannya bersama dengan kedua anaknya. “Sebagai orang tua saya sadar, bahwa penting untuk mendampingi anak menyikat gigi. Abbey (7) sudah terbiasa melakukan sikat gigi sehari dua kali, bahkan tidak jarang dia lebih sering mengingatkan bapaknya. Sedangkan Zoe (3) masih perlu diingatkan dan didampingi hal ini yang membuat saya dan Bapaknya harus kreatif mencari cara agar menyenangkan. Bersyukur sekali diberi kesempatan mengikuti kegiatan BKGN keliling daerahm saya menfapatkan banyak pengalaman sekaligus ilmu baru tentang kesehatan gigi. Saya jadi punya banyak cara untuk mendampingi anak-anak saya bagaimana menjaga kesehatan gigi dan mulut,” katanya. (dri)