BCA Dorong Pertumbuhan Ekonomi Digital Nasional

138
Pembukaan Indonesia Knowledge Forum VI yang diselenggarakan BCA dihadiri oleh Menkominfo Rudiantara dan jajaran komisaris & direksi BCA, di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, (3/10/2017)

JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mendukung perkembangan bisnis ekonomi berbasis digital melalui BCA Learning Service dengan menggelar Indonesia Knowledge Forum (IKF) ke-6 pada 3 – 4 Oktober 2017.

Komisaris BCA, Cyrillus Harinowo, menyatakan bahwa forum tersebut digelar sebagai wadah one stop knowledge solution bagi setiap pelaku bisnis yang membutuhkan strategi digital untuk diterapkan dalam organisasinya. “Kami mencoba menyebarluaskan pengetahuan baru yang bisa menginspirasi nasabah maupun masyarakat umum agar mereka bisa mengembangkan bisnisnya,” ujarnya di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, (3/10/2017).

Sementara Direktur BCA, Suwignyo Budiman, mengungkapkan, BCA sudah melalukan engagement dengan para startup melalui cucu usaha perseroan dengan konsep modal ventura PT Central Capital Ventura (CCV). “Sudah banyak startup yang tertarik tetapi kami masih diskusikan terus agar startup bisa maju dan dapat membantu sektor perbankan,” katanya.

Bisnis ekonomi digital berdampak pada perubahan business process perbankan. Hal ini diakui oleh Suwignyo dengan menggambarkan perubahan yang signifikan misalnya 10 tahun yang lalu sebagian besar orang masih banyak datang ke bank, namun saat ini dari total sekitar 18 juta transaksi BCA per hari yang terjadi di kantor cabang hanya sebesar 3 persen. Sementara 97 persen terjadi di luar kantor cabang baik itu melalui ATM, mesin EDC dan internet banking.

“Fungsi bank menjadi bertambah besar. Nasabah kami setiap tahun juga bertambah terus. Lima tahun lalu, BCA hanya punya 8 juta nasabah, sekarang sudah lebih dari 14 juta nasabah. Kebutuhan semakin banyak, sehingga kami perlu banyak SDM. Memang business process berubah, fungsi kantor cabang juga berubah dengan lebih banyak memberi konsultasi. Untuk transaksi rutin harian pindah ke digital,” kata Suwignyo.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi & Informatika, Rudiantara, mengatakan, Pemerintah Indonesia saat ini menyiapkan standarisasi yang difokuskan pada tiga critical infrastructure yakni keuangan perbankan, transportasi khususnya transportasi udara, dan energi terutama listrik.

“Kami bersama dengan regulator dan pelaku dalam menentukan standar keamanaan agar tidak dibuat masing-masing. Keuangan perbankan memiliki standar yang mengacu pada standar internasional, core standard harus sama, memang ada penyesuaian kecil-kecil. Bank itu ada kliring, sehingga tidak bisa menggunakan standar yang berbeda-beda,” kata Rudiantara yang menghadiri Indonesia Knowledge Forum.

Ia mengatakan, pemerintah fokus pada masalah keamanan dan infrastruktur. Dengan target inklusi keuangan Indonesia 2019 sebesar 75 persen, Rudiantara menyampaikan bagaimana infrastrukturnya mendekati 100 persen lebih dulu, sehingga tidak ada alasan inklusi keuangan hanya dipatok 75 persen.

“Yang sedang dilakukan adalah membangun infrastruktur, 4G digeber terus, Palapa Ring 2019 selesai sehingga tidak ada ibukota/kabupaten yang tidak punya akses broadband. Palapa Ring paket Barat selesai akhir kuartal-I 2018. Kemudian menyusul Palapa Ring Timur,” tutupnya. (sd)

BAGIKAN