2016, Tahunnya Virtual Reality

610

JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Saat kebanyakan penggemar teknologi digemparkan akan kehadiran virtual reality, kita yang lainnya tentu akan berpandangan berbeda. Di mana aplikasi yang menghebohkan tersebut ? Di mana permainan yang menantang ? Di mana kasus penggunaan inventif bagi bisnis untuk diwujudkan di era inovasi berikutnya ?

Agar adil, nama-nama besar di virtual reality memang membuat cukup banyak kemajuan tahun ini, tapi bagaimana pun juga kemajuan ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan adopsi mainstream. Menatap ke masa depan, tampaknya momentum ini bisa berubah dengan sangat cepat di tahun 2016. Ini alasannya:

Oculus Rift

Tidak ada kekurangan dari ulasan yang besar dan permintaan konsumen untuk virtual reality tetapi ketika menjadi kenyataan, saatnya kita menjadi benar-benar bersemangat. Seperti halnya dengan akuisisi Facebook untuk Oculus Rift, yang menyatukan tim impian yang sesungguhnya dari game dan menyeleksi bakat untuk mengantar virtual reality bagi khalayak mainstream.

Samsung Gear VR, solusi virtual reality portabel yang didukung oleh Oculus, terjual habis tak lama setelah produksi pertamanya tahun ini. Facebook menjanjikan akan “terus berinvestasi” di virtual reality untuk menjadikannya bahkan lebih populer di Q1 2016.

Meskipun Oculus Rift saat ini tengah meraih semua berita utama realitas virtual, Sony PlayStation VR, sebagai headset tunggal, mungkin akan menyalip mereka. PlayStation ini memiliki install-base yang besar dan memungkinkan adopsi mudah untuk permainan.

Namun keberhasilan PlayStation VR bergantung pada harga yang belum jelas ditetapkan Sony. Oculus telah menjelaskan kisaran harga, antara USD300 dan USD400, atau lebih rendah jika memungkinkan.

Sony baru-baru ini mengatakan akan mengumumkan rincian harga untuk PlayStation VR tahun depan. Sampai saat itu, masyarakat dapat menikmati permainan-permainan yang telah dijanjikan PlayStation VR untuk diluncurkan: Rez Infinite, Golem, Ace Combat 7 dan Job Simulator.

HTC/Valve

HTC/Valve sedang mengembangkan headset HTC Vive yang diatur untuk rilis bulan April tahun 2016. Valve sendiri telah berkecimpung di industri permainan selama lebih dari dua puluh tahun, dengan memproduksi hits seperti Half Life 1 dan 2, dan Portal.

Mereka juga memiliki jutaan pemain menggunakan software Steam mereka, komunitas dan distribusi servis permainan. Belum lagi kerjasama Valve dengan banyak pemain dan penerbit memposisikannya pada keuntungan besar untuk mendapatkan traksi awal. Dan menurut sebuah posting blog perusahaan baru-baru ini, HTC berencana untuk menjadi tuan rumah konferensi pengembang di Beijing pada tanggal 18 Desember dan meluncurkan kit pengembang generasi kedua sebelum massa dapat mulai membeli headset Vive.

Selain itu juga ada rencana untuk mendistribusikan 7.000 unit untuk pengembang pada awal tahun 2016 dan memulai tur demo global pada sejumlah acara industri high-profile.

VR Beyond Gaming

Sementara gaming akan menjadi industri pertama yang mengadopsi VR, hal tersebut akan berubah dengan cepat, menurut Doug Barr, CEO PixieDust VR, yang mengkhususkan diri dalam pengalaman pembangunan rumah virtual reality. Facebook baru-baru ini mulai melempar virtual reality kepada agen iklan dan Oculus telah memulai Oculus Story Studio, sebuah koleksi karyawan ex-Pixar yang kini membuat film VR. Barr diberi kesempatan menjalani film pendek pertama mereka, Henry.

“Anda dapat dengan cepat melihat bagaimana hal itu akan mengubah mediumnya.Tidak pernah aku merasa seperti aku adalah bagian dari film dan berpartisipasi. Ini ajaib,”ujarnya.

Setelah film, Barr mengatakan saatnya bagi konten pendidikan untuk naik daun. Bayangkan siswa benar-benar mengunjungi piramida Giza, mengalami skala seutuhnya dan merasa seperti Anda berada di sana. Anda tidak bisa mendapatkan itu dari media dua dimensi yang kita miliki saat ini. VR untuk saya, adalah bukan tentang tempat-tempat yang bisa anda kunjungi, melainkan tentang tempat-tempat Anda tidak bisa kunjungi. Kemana Anda ingin VR untuk membawa Anda tahun depan? (dri)